Sepiring Nasi Goreng untuk Presiden

Wajah relawan yang mengawal dapur umum di lokasi penampungan korban musibah banjir dan galodo di Nagari Salareh Aia Kabupaten Agam sumringah tidak terkira. Sejak pagi, sebelum matahari muncul dan ayam jantan berkokok, Amai amai di nagari yang menjadi daerah terdampak paling parah di Sumbar itu sudah menunggu kedatangan Presiden Prabowo ke nagari mereka. Yang akan mereka sampaikan kepada Presiden bukan hanya duka dan nestapa sebagai korban, namun juga masakan terenak untuk Sang Kepala Negara – Nasi Goreng.  

Nasi Goreng memang kesukaan Prabowo. Prabowo menikmati nasi sepiring nasi goreng yang disodorkan kepadanya. “Ini enak, tidakq1asin” jawabnya ketika Menhan Sjafrie Syamsudin menanyakan rasa nasi goreng yang dimakannya. Selain Menhan, pejabat negara yang ikut makan nasi goreng bersama Prabowo adalah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanyo, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya dan Anggota DPR RI Andre Rosiade. 

Sambil berkelakar Presiden menegaskan komitmen Pemerintah untuk masyarakat terdampak banjir. Negara akan selalu hadir dan memberikan yang terbaik.  

Awalnya, dari lokasi penginapan di Padang, Presiden Prabowo dan rombongan terbang menggunakan Helikopter Kepresidenan menuju Palembayan di Kabupaten Agam pada pagi hari. Agenda pertama Kepala Negara adalah mengunjungi pos Tanggap Darurat yang sudah berlangsung selama dua pekan. 

Di lokasi pengungsian dan penampungan sementara, RI-1 menerima penjelasan dari Kepala BNPB Letjend Suharyanto dan Bupati Agam Benny Warlis. Pun di sana, keluarlah taklimat Kepala Negara, Rumah hunian sementara bagi korban musibah sudah harus selesai dalam waktu satu bulan. 

Waktu tiga puluh hari yang diberikan Presiden kepada BNPB bukanlah waktu yang singkat, namun juga bukan waktu yang lama. Presiden menegaskan dengan kalimat pendek, “Anda tidak sendiri”. Kalimat inilah yang menjadi penawar duka bagi warga. Mereka merasakan kehadiran negara dan kesiap siagaan serta kepedulian pemerintah disaat musibah melanda. 

Titah Presiden bahwa hunian sementara sudah harus selesai dalam waktu tiga puluh hari dan penegasan bahwa “Negara Hadir” tidak boleh berhenti di sana. Semua pihak di lapangan sudah harus menindaklanjuti dengan segera. Sudah lama korban hidup di tenda pengungsian. Ini tidak semestinya diteruskan. 

Warga harus hidup normal dan beraktifitas meski di lokasi sementara. Hidup di tenda dan bercampur baur tentu tidak sehat dan tidak nyaman. Kaum perempuan dan laki laki dewasa tentu akan risih, pun anak anak akan merasa terganggu belajarnya. Oleh karena itu, kalimat Presiden yang disampaikan di hadapan warga dan didengar semua pejabat pemerintah adalah sebuah titah dan perintah tegas. Laksanakan, tidak ada tawar menawar. 

Semua pihak dari atas sampai ke bawah, Pemerintah Pusat, Kementerian Pekerjaan Umum, BUMN, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta lembaga terkait harus bekerja keras menyukseskan perintah ini. Koordinasi dan komunikasi antar lembaga terkait harus berjalan baik. Ini kerja masal, ini kerja bersama dan harus bekerjasama. Sebab sekali lagi, ini Perintah Presiden. 

BNPB merencanakan akan membangun Huntara secara bertahap di beberapa kabupaten yang terkena musibah banjir dan longsor. Di Kabupaten Pesisir Selatan, pembangunan hunian sementara akan difokuskan di Jorong Taratak Teleng Nagari Pulik Pulik. 

Progres paling cepat dilakukan di Kabupaten Lima Puluh Kota yang sudah sampai pada tahap pembersihan lahan seluas 4.700 meter persegi guna peruntukan 75 KK. 

Ratusan personel TNI dari Batalyon Zeni Tempur, Batalyon 131 dan Kodim ikut ditugaskan untuk mempercepat pembangunan Huntara dimaksud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *