Kawa dan Tradisi

Kawa dan Tradisi

Kawa (Minuman khas nagari di Minangkabau) bukan sekedar bekal atau minuman semata. Kawa adalah tradisi yang kini kian memudar dari keseharian. Meski masyarakat masih menyebut kata “Kawa” dalam keseharian, namun tidak semua orang yang memakai diksi ini. Palingan hanya sebagian dan di daerah tertentu. Padahal kata “Kawa” adalah istilah yang kini jamak dipakai kaum Milenial dan GenZ untuk mengajak koleganya menikmati kopi.

Kalimat “Pai minum Kawa awak nah” kini menjadi “Ngupi yuk Gaes”. Terdengar asing, namun sering. Alangkah lebih baik jika kita kembali ke nuansa awal. Mengabadikan diksi diksi asli daerah kita yang hampir terlupakan dan punah.

Seorang teman asli Manado pernah membuat kamus kata kata asli Manado. Begitupun di Jawa dan Aceh serta daerah lainnya seperti Banjar dan Dayak Iban di Kalimantan Barat. Saya mengajak segenap keluarga besar Magek Saondoh untuk mengaktifkan kembali serta melestarikan kata kata asli dalam bahasa Minang khususnya Magek dalam keseharian kita.

Tradisi ma antaan Kawa ke sawah bagi kaum lelaki yang tengah bekerja sama (Goro) di Sawah bisa juga adalah tradisi yang harus kita jaga. Semangat kegotong royongan ini harus dipertahankan agar tidak punah oleh kemajuan zaman. Semoga ma antaan Kawa dan Bakawa terus terpelihara dan menjadi kebaikan bagi kita semua. Aamiin

Salam hormat

Ahmad Albar; Pendiri God Bless yang Tersisa

Ahmad Albar; Pendiri God Bless yang Tersisa

Sejarah music rock di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari nama nama seperti Ian Antono, Soman Lubis, Arthur Kaunang, Ucok Harahap, Ian Antono, Teddy Sudjawa, Benny Soebardja dan bahkan sang legenda promotor nyentrik Ong Oen Log yang kemudian kita kenal dengan nama besar Log Zhelebour.

Akan tetapi, nama besar mereka bahkan sampai ke generasi Nicky Astria, Ikang Fawzi dan Anggun C Sasmi tidak akan berarti apa apa tanpa ditunjang oleh salah satu legenda yang kemarin baru saja menghembuskan nafas terakhir yaitu Gideon Onda Patta Gagola (Donny Fattah).

Bersama Ludwig Lemans dan Ahmad Albar yang baru “mudik” dari Belanda di awal tahun 70-an, Donny membentuk Crazy Wheels yang menjadi cikal bakal band rock terkenal dan menjadi legenda hidup sampai saat ini – God Bless.

Persahabaan Ian Antono, Ahmad Albar dan Donny teruji dan tercatat dalam lembar demi lembar sejarah music rock Indonesia besama God Bless. Berbeda dengan Ian yang sempat vakum dari God Bless, Donny dan Iyek (panggilan Ahmad Albar) adalah dua penjaga sejarah group tersebut. Keduanya tidak pernah sekalipun meninggalkan “berkah Tuhan” tersebut, meski di awal awal berdirinya sudah ditinggal oleh Fuad Hasan dan Soman Lubis yang tewas akibat kecelakaan bermotor dan kepergian Ludwig Lemans yang kembali ke Belanda bahkan Jockie yang sempat keluar masuk mengisi pos pemain Keyboard.

Donny, Ahmad Albar dan Ian Antono adalah nyawa God Bless. Kini dengan kepergian Donny akibat komplikasi penyakit, God Bless asli tersisa hanya Ahmad Albar dan tentu saja Sang Maestro Ian Antono. Memang sejak lama posisi Donny di pos pemain Bass sudah diisi oleh Arya Setyadi.

Lagu Musisi; Musik yang melampaui Zaman

Donny Fattah bukan tidak lagi naik panggung karena menjalani perawatan akibat komplikasi penyakit yang dialaminya sejak beberapa tahun terakhir. Ia sesekali masih tampil bersama God Bless. Terakhir saat Konser 50 Tahun God Bless, Donny sempat tampil ke atas panggung guna mengisi part bass pada lagu Musisi yang terkenal.

Lagu Musisi sendiri menjadi lagu terbaik sepanjang sejarah musik rock Indonesia, dan Donny Fattah menjadi pembuka pada lagu itu dengan mengisi part pertama. Bagi generasi Rock 80 dan 90-an, tentu hapal betul dengan bunyi suara bass Donny dipart awal.

Dua teman baik saya, Al Mukaroom Ustad Sintaa Oskar dan Danny Achtar menngungkapkan ketakjubannya atas lagu tersebut. Bayangkan, di tahun 80-an, musisi Indonesia sudah mampu membuat lagu sekeren itu, padahal saat itu, teknologi musik belum semaju saat ini.

Kemarin, Donny Fattah berpulang ke pangkuan Tuhan Allah Yang Maha Kuasa. Saya memutar Kembali lagu Musisi dan tentu saja lagu wajib “Huma Di atas Bukit”. Saya penggemar God Bless, saya berduka. Selamat jalan Om Donny, teruslah ke Surga. God Bless You.***

Makam Ibu

Makam Ibu

Ada dimana saya menemukan kedamaian selain duduk sendiri diatas sajadah seusai Shalat Isya pukul dua malam (sesuai kebiasaan) atau selepas shalat wajib lalu membiarkan pikiran melayang kemana saja menembus segala ruang pikiran dan halayalan. 

Saya berujar kepada seorang teman, “Kamu beruntung, di usiamu yang sudah setengah abad, kamu masih berkesempatan bertemu Ibu kandung yang melahirkanmu, sementara saya, sudah menjadi piatu sejak kecil”. Berat, tentu saja berat, namun Hidup harus terus berjalan dan dijalani. Maka ketika anak anak yang beruntung bisa berkesempatan meminta doa dan memohon agar ibunya memeluk dan mengusap kepalanya saya berada di ruang yang berbeda. Saya hanya bisa menangis memohon doa kepada arwah Ibu saya di makamnya agar diberi restu dan didoakan di alamnya agar perjalanan hidup dilancarkan. 

Salah satu tempat nyata yang saya sukai dan temukan ketenangan adalah di makam Ibu saya. Makam yang terletak di Nagari Sikucua Padang Pariaman itu jauh dari rumah tempat tinggal kami. Melewati hutan kecil dan mendaki bukit. Disana Ibu saya dimakamkan – di Pandam Perkuburan kaum kami Suku Piliang. 

Pekan lalu saya pulang ke kampung. Sebagaimana biasa, usai turun dari tangga pesawat, saya akan mencari angkutan sewa dan meminta diantar ke kampung hanya untuk satu tujuan; ke Makam Ibu saya. disana semua sesak dilepaskan, semua sakit diobati dan segala perih ditenangkan. Di Makam Ibu, saya bisa bercerita panjang lebar tentang apa yang saya alami di perantauan dan meminta restu melanjutkan perjalanan. Disana saya bisa menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya akan tersenyum bahagia menceritakan pencapaian saya dalam hidup yang menantang kerasnya pertarungan dunia. 

Pekan lalu, untuk kesekian kalinya saya menangis di nissan Ibu saya. Itulah tangisan anak kecil yang kehilangan penyangga hidupnya. tangisan anak kecil yang kehilangan ibunya.