PS Semen Padang (SemenPadangFC) kembali menelan kekalahan. Setelah dijungkalkan Persib Bandung di Stadion Haji Agus Salim Padang pekan lalu, kali ini di Stadion Manahan Solo, Semen Padang harus kembali ke Indarung dengan kepala tertunduk.
Kalah di Kandang melawan Tim Calon Juara Liga dan bertabur Bintang, rasanya tidak sesakit “digampar” tim papan bawah penghuni zona degradasi seperti Persis Solo yang juga sedang ngos ngos-an berjuang agar tidak turun kasta ke Divisi Dua PSSI tahun depan.
Penampilan “boak-boak-an” anak anak Bukit Karang Putih itu kembali terjadi. Jika sedang “main” mereka seperti sedang bertarung sebenar benar bertarung, namun ketika sedang kusut, entah apa mau disebut.
Berbagai cara sudah dilakukan oleh pengurus Semen Padang FC. Mulai dari mengganti pelatih sampai membuang pemain yang dianggap menjadi beban karena tak kunjung berkontribusi kepada tim. Segala akal, segala jurus dan segala jimat sudah dikeluarkan untuk membuat tim sepakbola kebanggaan kami di Ranah Minang itu bertahan di liga dan bermain meraih kemenangan. Akan tetapi ndak dpat akal kita lagi, entah apa mau disebut. Kalah lagi kalah lagi.
Jika Semen Padang kembali ke Divisi Dua musim depan, maka tidak ada tim perwakilan Sumatera di Pentas Liga Satu. Persiraja, PSMS, PSPS, Medan Jaya, PSP Padang, SriwijayaFC sudah berkumpul semua di liga bawah, malah PSP Padang yang sempat dibela Suhatman Imam dan nama nama beken di pantas seopakbola nasional kini hanya main di Liga Tiga. Jikalah nanti memang harus turun, maka Sumatera tidak punya wakil di Liga Satu. Ibakita***