Video dari Yogi Ramon Setiawan. Circa tahun 2021 usai Covid19. Suasana


Video dari Yogi Ramon Setiawan. Circa tahun 2021 usai Covid19. Suasana

Ada dimana saya menemukan kedamaian selain duduk sendiri diatas sajadah seusai Shalat Isya pukul dua malam (sesuai kebiasaan) atau selepas shalat wajib lalu membiarkan pikiran melayang kemana saja menembus segala ruang pikiran dan halayalan.
Saya berujar kepada seorang teman, “Kamu beruntung, di usiamu yang sudah setengah abad, kamu masih berkesempatan bertemu Ibu kandung yang melahirkanmu, sementara saya, sudah menjadi piatu sejak kecil”. Berat, tentu saja berat, namun Hidup harus terus berjalan dan dijalani. Maka ketika anak anak yang beruntung bisa berkesempatan meminta doa dan memohon agar ibunya memeluk dan mengusap kepalanya saya berada di ruang yang berbeda. Saya hanya bisa menangis memohon doa kepada arwah Ibu saya di makamnya agar diberi restu dan didoakan di alamnya agar perjalanan hidup dilancarkan.
Salah satu tempat nyata yang saya sukai dan temukan ketenangan adalah di makam Ibu saya. Makam yang terletak di Nagari Sikucua Padang Pariaman itu jauh dari rumah tempat tinggal kami. Melewati hutan kecil dan mendaki bukit. Disana Ibu saya dimakamkan – di Pandam Perkuburan kaum kami Suku Piliang.
Pekan lalu saya pulang ke kampung. Sebagaimana biasa, usai turun dari tangga pesawat, saya akan mencari angkutan sewa dan meminta diantar ke kampung hanya untuk satu tujuan; ke Makam Ibu saya. disana semua sesak dilepaskan, semua sakit diobati dan segala perih ditenangkan. Di Makam Ibu, saya bisa bercerita panjang lebar tentang apa yang saya alami di perantauan dan meminta restu melanjutkan perjalanan. Disana saya bisa menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya akan tersenyum bahagia menceritakan pencapaian saya dalam hidup yang menantang kerasnya pertarungan dunia.
Pekan lalu, untuk kesekian kalinya saya menangis di nissan Ibu saya. Itulah tangisan anak kecil yang kehilangan penyangga hidupnya. tangisan anak kecil yang kehilangan ibunya.