Kawa (Minuman khas nagari di Minangkabau) bukan sekedar bekal atau minuman semata. Kawa adalah tradisi yang kini kian memudar dari keseharian. Meski masyarakat masih menyebut kata “Kawa” dalam keseharian, namun tidak semua orang yang memakai diksi ini. Palingan hanya sebagian dan di daerah tertentu. Padahal kata “Kawa” adalah istilah yang kini jamak dipakai kaum Milenial dan GenZ untuk mengajak koleganya menikmati kopi.
Kalimat “Pai minum Kawa awak nah” kini menjadi “Ngupi yuk Gaes”. Terdengar asing, namun sering. Alangkah lebih baik jika kita kembali ke nuansa awal. Mengabadikan diksi diksi asli daerah kita yang hampir terlupakan dan punah.
Seorang teman asli Manado pernah membuat kamus kata kata asli Manado. Begitupun di Jawa dan Aceh serta daerah lainnya seperti Banjar dan Dayak Iban di Kalimantan Barat. Saya mengajak segenap keluarga besar Magek Saondoh untuk mengaktifkan kembali serta melestarikan kata kata asli dalam bahasa Minang khususnya Magek dalam keseharian kita.
Tradisi ma antaan Kawa ke sawah bagi kaum lelaki yang tengah bekerja sama (Goro) di Sawah bisa juga adalah tradisi yang harus kita jaga. Semangat kegotong royongan ini harus dipertahankan agar tidak punah oleh kemajuan zaman. Semoga ma antaan Kawa dan Bakawa terus terpelihara dan menjadi kebaikan bagi kita semua. Aamiin
Salam hormat
